Edukasi – Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (dikbud) Provinsi Maluku, Insun Sangadji memastikan tidak ada kebocoran soal Ujian Sekolah (US) maupun jawabannya tingkat SMA/SMK tahun ajaran 2021-2022.
“Kalian liat semua, sampul ujian masioh dalam kondisi tersegel, kami jamin tidak menjaga kerahasiaan sampul soal ujian dan kunci jawaban,”kata Sangadji saat membuka sampul ujian di SMA Negeri 3 Maluku Tengah (Malteng), Senin(21/3).
Sebelumnya secara simbolis, Kadis Dikbud membuka sampul US di SMA Negeri 1 Ambon, selanjutnya memantau pelaksanaan ujian dengan menggunakan aplikasi berbasis computer atau CBT AKN di SMA Negeri 11 Ambon.
Usai membuka sampul di SMA Negeri 3 Malteng, kepada koran ini, Sangadji mengatakan, secara keseluruhan di Maluku SMA/SMK dan SLB yang mengikuti US berjumlah 415 sekolah dengan, 283 SMA, 115 dan SLB 16 sekolaj.
“Tadi kan pagi saya sudah buka sampul di SMA Negeri 1 Ambon, untuk seluruh provinsi Maluku, kemudian saya buka di SMA Negeri 11 Ambon, karena satu-satunya SMA yang menggunakan ujian berbasis aplikasi CBT AKN, sementara yang lainnya menggunakan kertas pensil,”ungkapnya.
Dikatakan, untuk materi soal semuanya dikembalikan ke satuan pendidikan masing-masing lewat koordinasi dengan MKKS setempat.
“Jadi begini, itu kerangka soal semuanya sama, itu yangt harus dipahami dulu, cuma soalnya nanti berbeda-beda, beda diwacana, angka tapi kerangka soalnya sama. Jadi kisi-kisi soal secara nasional itu sudah ada, sehingga semua soal panduanya kesitu, tapi nanti wacananya yang berbeda,”jelasnya.,
US kata Sangadji , merupakan salah satu penentu kelulusan siswa, karena tidak ada lagi Ujian Nasional (UN), sehingga proses ujian betul-betul harus dapat dikerjakan dengan baik oleh semua peserta ujian.
Terkait dengan pelaksanaan ujian berbasis aplikasi CBT AKN, diharapkan kedepan dapat diikuti oleh semua SMA/SMK di Maluku
“Apa yang telah dilakukan SMA Negeri 11 Ambon, benar-benar menunjukan kwalitas karena siswa kelas XII diberikan kemampuan untuk berproses, walaupun masih dalam kondisi pandemi covid-19. Tetapi peserta didik diarahkan menuju sesuatu yang baik demi masa depan mereka yang bermutu dan berkwalitas.
Meskipun demikian lanjut Sangadji, proses ujian dengan menggunakan pencil/kertas, tidak merupakan hal yang bermasalah, namun yang terpenting bagaimana mutu pendidikan dapat mendongkrar dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga apapun yang dilakukannya sebagai Kadis pendidikan, hanya samata-mata ingin memajukan pendidikan di Maluku.
Selain membuka sampul, Sangadji sempat meluangkan waktunya menyapa para siswa, dengan penuh senyum dan keramahan. Seraya meminta agar para siswa bisa lebih jeli membaca soal dengan teliti hingga dapat kerjakan dan berikan jawaban yang benar.
“Ingat ujian sekolah ini merupakan penentukan kelulusan kalian, sebagai peserta didik. Semua siswa pasti ingin lulus, haruslah berhati-hati dan mesti belajar dengan baik sebab bukan kwantitas yang dikejar tetapi kwalitas,”ingatnya.
Sementara pantuan koran ini dibeberapa SMA di Kota Ambon, salah satunya di SMA Negeri 4 Ambon, proses US dilaksanakan juga berbasis komputer dengan jumlah peserta ujian sebanyak 229 siswa, namun sebelumnya siswa juga telah dipersiapkan sebelum memasuki ujian, baik lewat belajar daring maupun luring.(**)
“Kita memang sesuai penjadwalan, kemudian juknis yang dikeluarkan Disdikbud Maluku, kita juga sudah siapkan siswa-siswanya, baik lewat daring maupun luring tapi kemudian berkembangnya terjadi perubahan kondisi pandemi, pemerintah lewat dinas sudah mengijinkan bisa tatap muka, sehingga disesuaikan untuk mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian,”uangkap Kepsek SMA Negeri 4 Ambon, Laurens Makatipu.
Ia mengakui sebenarnya juga bisa melaksanakan ujian berbasis aplikasi CBT AKN, namun rata-rata siswa banyak tidak memiliki Hp Android dan pulsa data, sehingga langkah yang diambil hanya bisa melaksanakan ujian berbasis komputer yang dimiliki sekolah.
“Kita kembali berpikir, apakah kita harus kembali ke masa lalu dengan ujian berbasis kertas pensil, sehingga lewat pertimbangan maka kita tidak pas dengan kondisi saat ini yang semuanya serba komputer, tapi US yang dilaksanakan dengan menggunakan cara ujian nasional, yaitu ujian berbasis komputer dengan hanya menggunakan kurang lebih 100 unit komputer yang siap digunakan,”tandasnya
.
Skip to content






